Skip to main content

Posts

Mengapa Harus Mendukung Khilafah, Gagal Paham?

Menurut mereka yang menyuarakan khilafah atau sistem pemerintahan islam di indonesia, khilafah adalah suatu sistem pemerintahan yang turun dari Tuhan. Hukumnya wajib untuk menegakannya. Menurut mereka juga, Pancasila dengan segala bentuk demokrasinya adalah buatan manusia, adopsi dari peradaban barat. Tidak wajib menegakannya, menegakannya berarti lalim terhadap Tuhan. Inilah gagal paham pertama menurut penulis karena tidak ada rujukan apa pun mengenai khilafah. Sepengetahuan penulis rujukan yang ada adalah kewajiban mengangkat Khalifah. Khalifah dalam konteks pemimpin, apapun namanya apakah itu Raja, Presiden, Sultan, Panembahan, lurah, camat, ketua RT. Kenapa penulis mengatakan bahwa khilafah sebagai sistem pemerintahan islam ini tidak dibakukan dalam ajaran islam itu sendiri, karena ditinjau dari sejarahnya, dimulai dari pasca wafatnya Nabi Muhammad, menuju era 4 sahabat terjadi kebingungan dalam tata cara pergantian kepemimpinan, bahkan dari satu era sahabat ke sahabat lain sa...

Menaati Pemerintah Bukanlah Kekafiran

Sebagian kelompok menganggap Indonesia negara kafir karena tidak berpedoman pada hukum Allah. Sehingga, menurut mereka, pemerintah tidak wajib ditaati. Bahkan, menaati pemerintah beserta aturan yang dibuatnya dianggap sebagai bentuk kekafiran. Benarkah demikian? Dalam Islam, menaati pemimpin merupakan sebuah keharusan dalam beragama dan bernegara. Kewajiban untuk menaati para pemimpin berimplikasi pada ketaatan aturan yang dibuat oleh pemerintah. Sebagaimana halnya mengikuti seorang pemimpin, maka apa yang menjadi turunan dan manifestasi kebijakannya menjadi sebuah kewajiban juga. Bagi kelompok jihadis menaati Undang-undang merupakan sebuah kekafiran turunan. Dalam bahasa mereka adalah “kafir istihlal”. Term ini diartikan sebagai cara melihat hitam-putih, halal-haram. Pemerintah yang dianggap menghalalkan yang diharamkan Allah, adalah pemerintah kafir. Maka mengikuti undang-undang yang diatur oleh pemerintah tersebut, secara otomatis menjadi kafir. Dalam pandangan mereka, ketaat...

Perlukah Jihad di Negara Demokrasi?

Syariat Islam diturunkan untuk menjamin lima kebutuhan prinsipil dalam kehidupan manusia. Yaitu nyawa, keyakinan, akal pikiran, harta kekayaan dan keturunan. Para ulama menyebutnya  kulliyatul khams . Sebagian para sarjana menyebutnya  maqashid syariah ,  objective of shariah , atau  philosophy of islamic law  (filsafat hukum Islam). Ini kajian penting dan tidak boleh dilewatkan oleh orang-orang yang belajar hukum Islam. Nah, jaminan terhadap kelima kebutuhan di atas dapat terwujud secara efektif melalui instrumen negara. Negara yang dapat menjamin keterpenuhan  kelima prinsip pokok di atas sama dengan menjamin terlaksananya syariat Islam. Sampai di sini ada pandangan unik dari seorang ulama kenamaan Tunisia. Ibnu Ashur (w.1973). Menurutnya, negara-negara demokratis pada prinsipnya telah memberikan jaminan lima prinsip itu. Ibnu Ashur, salah seorang ulama terkemuka yang juga rektor Universitas Zaitunah, Tunisia, pernah menyatakan dalam bahwa negara yan...

Demokrasi Bukan Agama

Relasi demokrasi dan Islam seakan tak pernah habis dibahas. Di tengah tantangan ekslusifitas sebagian kelompok, di sisi lain, pada prinsipnya demokrasi dihadapkan pada tantangan sifat keterbukaannya bagi yang  liyan.  Pada saat yang sama, demokrasi secara prinsipil dan substantif dipertentangkan secara teologis. Sederhananya, demokrasi ditentang karena alasan ia bukan berasal dari Islam. Bagi kelompok esktrimis demokrasi selalu dibenturkan antara agama. Bagi kelompok ekstrimis, tidak ada yang melebihi dari agama itu sendiri. Menurut mereka demokrasi adalah  dien  (agama). Benarkah hal tersebut? Menurut kaum ekstrimis, bahwa demokrasi merupakan thogut, ia bertentangan dengan Islam. Logikanya, karena demokrasi itu sebagai thogut, syirik, maka ia bertentangan dengan Islam. Mereka menilai bahwa demokrasi merupakan ideologi yang menyalahi Islam, karena demokrasi dibangun berdasarkan sistem perwakilan dan kedaulatan rakyat. Bagi kelompok ekstrimis, kedaulatan itu hany...

Indonesia Darurat Akal Sehat?

Aksi viral pemuda Lampung yang dengan sengaja merusak motor saat ditilang itu seketika mengundang netizen untuk mem-bully-nya. Bahkan akun facebooknya yang diduga telah di¬hack juga mendapat ribuan hujatan netizen. Pasalnya, tindakan pemuda ini sangat tidak biasa dilakukan oleh seorang pelanggar lalu lintas pada umumnya. Manajemen amarah yang buruk disinyalir menjadi pemicu tindakan ini. Namun, yang menjadi sorotan bagi saya adalah ketika aksi ini menjadi wajah yang mewaikili sifat pemuda Indonesia saat ini yang kurangpengetahuan, wawasan dan kebijaksanaan. Tak hanya itu, kegilaan yang menjadi undangan gratis untuk membully dirinya di dunia maya ini juga menjadi tampilan wajah netizen Indonesia yang kurang terpuji. Lalu pertanyaannya adalah di mana tata krama, sopan santun dan budi luhur yang selama ini menjadi junjungan masyarakat Indonesia sedari dulu? Tata krama, sopan santun dan budi luhur pada kenyataannya hanyalah semboyan semata. Baik secara pendidikan maupun agama, bel...

BENDERA, KALIMAT TAUHID DAN TEMPURUNG JAHAT

BENDERA, KALIMAT TAUHID DAN TEMPURUNG JAHAT oleh: Ach Dhofir Zuhry* Insiden pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh oknum Banser di Garut-Jawa Barat bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sontak menjadi isu nasional, terutama di jagat maya.  Terang betul, karena Presiden RI yang meresmikan HSN tiga tahun silam, ia juga sering bersilaturrahmi ke Pesantren-pesantren dan memang lebih sering sarungan, pendek kata, Presiden sudah semakin santri. Yang belum terang adalah, mengapa bendera HTI berkibar di tengah gegap-gempita HSN? Tak hanya berkibar, ia juga pasti berkabar akan satu hal, dan lantas membuat kita semua berkobar.  Adakah ini murni peristiwa pembakaran atau ada meta-peristiwa dan intrik politik yang beraroma provokasi dengan bumbu-bumbu membenturkan Santri, Banser, NU, Kepolisian dan ormas-ormas lainnya? Siapa tukang kompor dan tukang kipas di balik ini semua? Sekalian kita tunggu tukang sabun dari peristiwa ini. Tiga jenis ...

Obrolan Ringan dengan Mantan Teroris

Tahun 2015. Selepas sebuah acara diskusi tentang penanggulangan terorisme, saya menumpang sebuah mobil bersama tiga orang lain. Supir dan salah satu rekan saya duduk di barisan depan. Di kursi tengah saya berdua dengan lelaki tinggi besar yang rajin tersenyum, ketawa dan berkelakar. Pembawaannya ringan. Dari bentuk wajahnya, cukup gampang menebak ia keturunan suku Jawa. Tapi saya berani bertaruh, setiap orang yang pertama melihat tak bakal menduga masa lalunya yang kelam. “Mas, kenapa rambutnya sudah  enggak   digondrongin lagi kayak dulu?” tanya saya sambil menunjukkan foto lamanya di sebuah dokumen. “Wahaha, gawat. Nanti kalau saya  panjangin  bisa disangka kambuh lagi bikin-bikin bom,” jawabnya. Kami tertawa bareng. Lelaki itu Ali Fauzi, mantan anggota sebuah jaringan teroris internasional. Ia adik terpidana mati Bom Bali 1, Amrozi. Keahliannya merakit bom. Fauzi pernah dianggap sebagai anggota teroris perakit bom terbaik di Asia. Dia hafal seluk-belu...